PERAN SASTRA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER

Banyak negara di dunia yang memiliki karya sastra yang ditulis dengan bahasa yang memukau dan anak bangsa di negara itu suka membacanya. Misalnya saja Rusia. Semua anak sekolah di Rusia diwajibkan membaca buku Antara Perang dan Damai karya Leo Tolstoy. Buku tebal yang ditulis pujangga Rusia selama hampir enambelas tahun itu berisi kisah sejarah bangsa Rusia. Meskipun buku tebal, karena ditulis dengan bahasa yang memukau maka anak-anak Rusia pun suka membaca buku ini. Apa yang kemdian terjadi? Semua anak Rusia yang membaca buku itu tahu-tahu bangga menjadi anak Rusia. Mereka bangga dan percaya diri menjadi bagian dari bangsa Rusia. Watak sebagai bangsa Rusia yang kokoh dan teguh dalam mengatasi masalah mereka memiliki setelah proses membaca buku ini selesai. Demikian dikemukakan oleh Jabrohim, Kepala Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan dalam Forum Apresiasi Sastra ke-36, Rabu 23 Juli 2014 di Kampus 2 Universitas Ahmad Dahlan.

Lebih lanjut Jabrohim, dalam forum bertema Peran Sastra dalam Pendidikan Karakter itu, mengemukakan bahwa itulah cara Rusia mempraktikkan pendidikan karakter bangsa berbasis sastra. Di Indonesia juga pernah terjadi kasus yang hampir serupa. Anak-anak Jawa Tengah dan DIY yang mengalami masa remaja di tahun 1960-an sampai 1970-an yang suka membaca cerita silat bersambung di Harian Kedaulatan Rakyat berjudul Nagasasra Sabukinten yang ditulis oleh SH Mintarja, dengan tokohnya Mahesa Jenar pun kemudian menjadi bangga dengan dirinya sebagai anak Jawa. Bangga karena memiliki idola sebagai satria Jawa. Mereka membayangkan bisa hidup sebagai pendekar yang satria, dan punya murid bernama Arya Salaka, dan petualangan serunya adalah ketika berada di Bukit Tidar untuk merebut kembali pusaka berupa sepasang keris bernama Kiai Nagasasra dan Sabukinten dari tangan tokoh hitam. Di Bukit Tidar terjadi pertarungan seru, dan keris itu dapat direbut kembali, lalu dibawa ke tanah perdikan Banyubiru sebelum diserahkan kembali ke Demak. Tetapi kemudian keris itu menjadi rebutan para tokoh saskti dan hilang karena diambil oleh sosok misterius berjubah abu-abu. Lewat pertempuran dahsyat mirip dengan Baratayuda yang hampir meluluhlantakkan Banyubiru, akhirnya ksatria berama Mahesa Jenar ini dapat mengembalikan pusaka itu ke Demak. Karena hebatnya cerita bersambug yang kemudian dibukukan. Buku Nagasasra Sabukinten ini konon katanya dipakai oleh lembaga pendidikan kader perwira militer sebagai bacaan wajib. Dan mereka yang selesai membaca buku kisah kepahlawanan Mahesa Jenar sebanyak lebih dari 26 jilid kemudian dalam dirinya tumbuh kebanggaan sebagai ksatria bangsa.  Ksatria yang siap menjalankan tugas untuk menyelamatkan bangsa.

Dari dua contoh di atas, dan tentu saja masih banyak contoh bangsa lain yang begitu menghargai sastra dan menjadikan karya sastra dan kegiatan sastra sebagai bagian pembentukan karakter bangsa, Jabrohim menegaskan bahwa kini ketika di Indonesia tengah dikampanyekan perlunya pendidikan karakter bangsa, sudah saatnyalah sastra dijadikan basis bagi proses pendidikan karakter itu.

Berangkat dari pandangan tersebut, Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan mewajibkan mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata untuk menyelenggarakan kegiatan sastra sebagai salah satu programnya. Di antara program itu adalah Forum Apresiasi Sastra, yang diselenggarakan bekerjasama dengan Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Pimpinan Pusat Muhammadiyah (LSBO PP Muhammadiyah). Di sela-sela Forum Apresiasi Sastra ke-36 itu, Dr. Nur Sahid, dosen ISI Yogyakarta yang juga Wakil Ketua LSBO PP Muhammadiyah mengemukakan bahwa telah banyak sastrawan dan pemerhati sastra yang mengisi acara yang diselenggarakan setiap bulan sekali itu. Di tahun 2014 ini, karya-karya yang dibahas di antaranya novel karya Prof. Dr. Mochtar Pabottinggi (Jakarta), kumpulan cerpen Ahmad Tohari (Banyumas), dan kumpulan puisi Bambang Widyatmoko (Jakarta).  Para pembahasnya antara lain Prof. Dr. Suminto A. Sayuti (UNY), Prof. Dr. Ali Imron Al Makruf (UMS), Dr. Aprinus Salam (UGM), dan Prof. Dr. Abd. Munir Mulkhan (UIN Sunan Kalijaga).

Peran Sastra dalam Kancah Pendidikan Bangsa

Sastra sangat terkait erat dalam kehidupan manusia. Ia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam perjalanan budaya dan peradaban karya cipta manusia itu sendiri. Sastra seperti pisau tajam, bahkan jauh lebih tajam, yang mampu merobek-robek dada dan menembus ulu hati, bahkan jiwa dan pemikiran. Pisau tajam ini juga mampu menjadi alat paling efektif untuk membuat ukiran patung karya kehidupan yang paling indah. Sastra juga bisa lebih halus daripada sutra yang paling halus hingga mampu menelusup ke dalam relung jiwa hingga tunduk dan pasrah pada kekuatannya.

Sastra dan manusia serta kehidupannya adalah sebuah persoalan yang penting dan menarik untuk dibahas secara komprehensif. Sastra berisi manusia dan kehidupannya. Manusia dan kehidupannya mempunyai hubungan yang rapat dengan kehidupan sastra. Manusia menghidupi sastra dan kehidupan sastra adalah kehidupan manusia.

Kekuatan sastra yang dahsyat mampu mengubah moralitas dan karakter manusia ke dalam persepsi kehidupan yang berbeda. Sejarah menuliskan bagaiman sosok seorang Umar bin Khotob yang punya kepribadian keras akhirnya luluh dalam basuhan sejuknya kekuatan sastra ayat-ayat Al-Qur’an. Goresan luka dari tajamnya pedang takkan bisa membuatnya menangis. Hantaman pukulan dan tendangan dari algojo terkuat dan terkejam sekalipun takkan sanggup menggoyahkan ketegarannya. Ancaman pembunuhan dan kematian tidak sedikit pun membuatnya merinding ketakutan.

“Syair macam apa yang kau baca itu?” Begitu tanya Umar saat pertama kali mendengar ayat-ayat suci dari Tuhan Penguasa semesta. “Betapa indah dan agungnya kalimat di dalam syair ini,” takjub Umar setelah membacanya. Ucapan Umar menunjukan bahwa hal pertama yang membuatnyat tertarik pada Islam adalah keterpesonaannya terhadap untaian tata bahasa Al-Qur’an yang begitu indah. Hanya syair dari Illahi inilah yang mampu membuat air matanya mengalir deras. Hanya untaian kalimat indah di dalam Al-Qur’an-lah yang sanggup membuatnya takluk dan tunduk serta merinding ketakutan.

 

 

Kekuatan Sastra Dalam Mendidik Bangsa

Sebelum Al-Qur’an turun, masyarakat jahiliyah negeri Arab memang sudah dikenal sebagai masyarakat yang mengagungkan para penyair dengan untaian sastra puisinya. Seperti yang dituliskan oleh Ibnu Rasyik dalam bukunya yang berjudul “Umdah” bahwa para penyair memiliki pengaruh dan kedudukan yang tinggi bagi bangsa Arab waktu itu. Bagi mereka seorang penyair merupakan penyambung lidah yang dapat mengungkapkan kebanggaan dan kemuliaan mereka.

Bangsa Arab telah menganggap betapa pentingnya peranan seorang penyair. Sehingga sering kali mereka mengiming-imingi seorang penyair yang dapat memberikan semangat dalam perjuangan dengan bayaran dan jabatan yang tinggi. Ada pula yang menggunakan penyair sebagai perantara untuk mendamaikan pertikaian yang terjadi antara kabilah, bahkan ada juga yang menggunakan penyair untuk memintakan maaf dari seorang penguasa.

Sebuah karya puisi, pada bangsa Arab dahulu, sanggup mempengaruhi kondisi masyarakat, bahkan mengubah sikap dan posisi seseorang atau sekelompok orang terhadap sikap atau posisi orang dan kelompok lainnya. Para penyair, dengan demikian juga berfungsi sebagai agen perubahan sosial dan perubahan kebudayaan. Kehebatan sastra para penyair waktu itu hanya bisa ditandingi oleh keindahan bahasa dari ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan Rabbul izzati kepada Muhammad SAW.

Betapa pentingnya sastra hingga Umar bin Khotob pun pernah mengingatkan, “Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu, maka kau sedang mengajarkan keberanian pada mereka!” Betapa tinggi nilai essensial dari sastra hingga Anis Matta dalam bukunya yang berjudul “Mencari Pahlawan Indonesia” mengajak pembacanya untuk mempelajari dan mengajarkan sastra. Sastra mengajarkan keberanian, sastra mengajarkan kelembutan, sastra mengajarkan keindahan, sastra mengajarkan kepedulian.

Sungguh sangat beralasan jika negara-negara maju sudah menjadikan sastra sebagai alat untuk membendung moralitas anak-anak muda. Para pendidik di negara-negara maju sudah menyadari bahwa sastra punya kekuatan besar yang sanggup merasuk ke hati pelajar, sehingga moralitas mereka juga bisa tertata.

Hal itu terbukti di negara-negara seperti Inggris, Amerika, Perancis, Jerman, dan negara-negara maju lainnya, bahwa pendidikan sastra banyak mempengarui moralitas para siswa di sekolah. Ada perbedaan yang signifikan antara siswa yang diajarkan sastra dengan yang tidak. Siswa yang diajarkan sastra hampir tidak pernah berperilaku negatif seperti terlibat perkelahian, nge-drug, dan melakukan tindak kejahatan kriminal. Sastra ternyata mampu menata etika mereka dengan budi pekerti yang baik. Padahal remaja yang hidup di negara maju tersebut merupakan remaja yang hidup di tengah masyarakat yang memiliki kebebasan yang tinggi.

Bicara tentang sastra, ada penelitian yang menarik. Bahwa, berdasarkan hasil dari beberapa penelitian di luar negeri, menunjukan ternyata berpuisi—sebagai salah satu bagian dari sastra—selain mampu memanajemen stress, yang notabene pemicu dari lahirnya tindak kekerasan, juga memberikan efek relaksasi serta mencegah penyakit jantung dan gangguan pernafasan. Sastra memang luar biasa!

 

 

Pendidikan Sastra Kita

Lantas bagaimana dengan pendidikan sastra di negara kita? Sayangnya, sastra di negara kita belum maksimal benar masuk ke ranah pendidikan. Terutama sastra untuk pendidikan pelajar tingkat sekolah dasar hingga menengah atas. Pendidikan sastra masih seperti untaian berlian yang belum terasah. Berlian yang masih dianggap terlalu mahal, kalau tidak boleh disebut terpinggirkan, untuk dinikmati keindahannya. Berlian itu terus tersimpan di etalase toko perhiasan yang hanya bisa dilihat tanpa boleh menyentuhnya. Bahkan mungkin masih tersimpan di dasar lautan yang hanya bisa ditemukan oleh orang-orang yang mau berjuang menyelami samudera.

Sastra di negara kita masih seperti dianaktirikan oleh dunia pendidikan. Pendidikan sastra secara formal masih menjadi salah satu materi yang diajarkan di dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Pendidikan sastra seolah hanya menjadi pelengkap dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Sastra dianggap sebagai hafalan belaka. Siswa mengenal novel-novel sastra seperti Sengsara Membawa Nikmat karya Sutan Sati atau Tenggelamnya Vanderwijk karya Buya Hamka, dan sebagainya karena mereka terpaksa atau bisa jadi dipaksa menghafal. Sebatas tahu judul buku dan penulisnya, serta membaca sebagian kutipan yang ada di salah satu halaman buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk sekedar berjaga-jaga kalau keluar dalam soal ujian.

Ujungnya, sastra hanya berlabuh dalam aktivitas menghafal, mencatat, ujian dan selesai. Metodenya hampir sama dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi. Sehingga minat terhadap dunia sastra benar-benar tak terlintas dalam benak para pelajar. Pendidikan formal relatif sangat kecil dalam perannya melahirkan sastrawan. Bisa dibilang, sastrawan, penyair, dan penulis-penulis hebat besar di jalanan, bukan karena pendidikan sastra dari lingkungan formal.

Padahal kalau mau melihat lebih luas, ternyata karya-karya anak bangsa justru banyak diapresiasi di luar negeri. Contohnya karya-karya Pramoedya Ananta Toer dan Buya Hamka telah menjadi bacaan wajib di negara seperti Malaysia, Cina, dan Belanda. Karya-karya mereka menjadi rujukan penting dalam memahami dunia sastra. Jadi tidak sekedar menghafal penulis dan judul karyanya saja, tapi mereka juga mengadakan kajian mendalam sehingga pelajar bisa benar-benar menyelami nikmatnya sastra.

Kini sudah saatnya dunia pendidikan tidak melihat sastra sebelah mata. Sastra bukan barang langka yang hanya tersimpan di museum. Sastra bukan mahluk asing yang hanya diperlakukan sebatas pengenalan dan penghafalan identitas. Dunia pendidikan di negara kita harus sudah memisahkan sastra dari pelajaran Bahasa Indonesia, mendalami sastra secara lebih luas, melahirkan sastrawan-sastrawan besar dari pendidikan formal dan memfungsikan dengan maksimal kekuatan sastra untuk mendidik generasi dan kehidupan berbangsa.

Sejatinya sastra merupakan unsur yang amat penting yang mampu memberikan wajah manusiawi, unsur-unsur keindahan, keselarasan, keseimbangan, perspektif, harmoni, irama, proporsi, dan sumbilmasi dalam setiap gerak kehidupan manusia dalam menciptakan peradaban. Jika sastra tercerabut dari akar kehidupan manusia, maka manusia tak lebih dari sekedar hewan berakal. Untuk itulah sastra harus ada dan selalu harus diberadakan.

Kembali mengutip bukunya Anis Matta, “Ajarkan sastra pada anak-anakmu agar mereka berani mengubah kelemahan menjadi kekuatan. Ajarkan sastra pada anak-anakmu agar mereka berani melawan ketidakadilan. Ajarkan sastra pada anak-anakmu agar mereka berani menegakan kebenaran. Ajarkan sastra pada anak-anakmu agar jiwa-jiwa mereka hidup. Ajarkan sastra yang mengajarkan keberanian.”

Mengulik Peranan Sastra dalam Pendidikan

Pendidikan merupakan suatu proses memanusiakan manusia. Maksudnya, pendidikan menjadi sarana untuk memberdayakan manusia menjadi individu yang cerdas. Dengan pendidikan, manusia diharapkan mampu menjadi tonggak kokohnya peradaban suatu bangsa.

Menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita setiap negara di dunia. Maju atau tidaknya suatu negara salah satunya dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Di Indonesia, pendidikan telah diatur dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Namun, seiring dengan perkembangan di dunia globalisasi, pendidikan di Indonesia justru menemui berbagai permasalahan. Para pendidik bahkan instansi pendidikan kerap kali memaksakan kehendaknya kepada siswa. Siswa pun tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan minat dan bakat mereka.

Selain itu, sebagaian besar masyarakat masih menganggap bahwa ilmu-ilmu eksak lebih penting. Jurusan seperti teknik dan kedokteran pun menjadi favorit bagi para calon mahasiswa maupun orang tua. Akibatnya, muncul stereotip bahwa pendidikan di luar eksak, seperti sastra menjadi tidak penting dan dipandang sebelah mata.

Pada akhirnya, terjadi ketidakseimbangan antara belajar kognitif (berpikir, -red) dengan perilaku belajar afektif (penerapan, -red). Para siswa lebih mengutamakan belajar dan menghafal dibandingkan mengamati lingkungan sekitarnya. Pendidikan hanya menciptakan manusia siap pakai. Manusia dipandangan sebagai bahan atau komponen pendukung insdutri. Sedangkan, lembaga pendidikan diharapkan mampu menjadi lembaga penghasil bahan atau komponen dengan kualitas tertentu yang dibutuhkan pasar.

Pembelajaran sastra di Indonesia sejak dulu hingga sekarang selalu mejadi permasalahan. Kurangnya guru yang menguasai bidang sastra, peserta didik yang kurang antusias serta buku-buku penunjang merupakan beberapa faktor mengapa sastra sering dianak-tirikan. Sebagian masyarakat punmasih memandang bahwa sastra hanyalah karangan bohong belaka dari si pengarang sehingga timbul lah diskriminasi.

Namun pada kenyataannya, sastra dapat digunakan untuk mengembangkan wawasan berpikir bangsa. Karya sastra mampu membukakan mata pembaca untuk mengetahui realitas sosial, politik, dan budaya. Selain itu, melalui sastra, masyarakat dapat menyadari masalah-masalah penting di dalam diri mereka dan menyadari bahwa mereka sendirilah yang bertanggung jawab terhadap masalah tersebut.

Sastra tidak pernah pudar apalagi mati. Sebab, sastra mampu mengajak masyarakat untuk berpikir kritis dan peka dengan lingkungan sekitar. Sastra tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat. Relita-realita yang ada di dalam masyarakat kemudian dituangkan dalam beberapa karya seperti cerita, puisi maupun bentuk karya sastra lainnya. Adanya karya sastra inilah yang mendorong munculnya kepedulian, keterbukaan, dan pertisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa.

Pendidikan sastra tentu akan memegang peranan penting dalam mengolah pola pikir masyarakat. Namun, pendidikan sastra tidak pernah dijadikan acuan dalam penyelesaian masalah. Padahal, sastra adalah ilmu yang menarik. Sastra mampu membukakan mata pembaca mengenai realita sosial, politik, dan budaya yang ada di masyarakat. Selain itu, sastra menyimpan pesan moral atau amanat dari sang penulis.

Sastra juga dapat menjadi tonggak perubahan di masyarakat. Sebagai contoh adalah karya François Rabelais yang berjudul Gargantua (1534). Kritikan Rabelais dituangkan dalam kehidupan sang tokoh utama, yaitu seorang anak raksasa bernama Gargantua. Ia mengkritik sistem pendidikan di Perancis yang tidak sesuai dengan prinsip humanisme.

Singkat cerita, Gargantua menghafal alfabet ketika berusia 5 tahun 3 bulan. Kemudian, ia pun menghafal perbendaharaan kata (vocabulaire, -red) pada usia 13 tahun 6 bulan dan 2 minggu, lalu dilanjutkan tatabahasa Latin pada usia 18 tahun 11 bulan. Rabelais mengungkapkan kecacatan sistem pendidikan yang semata-mata hanya dari buku, tanpa ada hubungannya dengan realita dan alam.

Akibat dari kecacatan sistem pendidikan itu lah, Gargantua menjadi sinting, konyol bahkan suka bengong. Ayahnya, Grandgousier, pun marah besar dan memutuskan untuk mengirim anaknya ke Paris. Di bawah bimbingan Ponocrates (= rajin), Gargantua dididik menjadi seorang humanis. Selain belajar melalui media buku, ia juga banyak belajar dari pengalaman sehari-harinya.

Karya sastra yang ditulis oleh Rabelais ini berfungsi sebagai sarana kritik sosial di mana sang penulis menginginkan adanya perubahan di bidang pendidikan. Adanya sensor bukanlah penghalang untuk berpendapat melalui karya sastra. Rabelais pun menggunakan analogi anak raksasa yang sebenarnya merupakan representasi dari para pelajar di Perancis pada masa itu.

Maka, jelaslah karya sastra mempunyai relevansi tinggi dengan masalah-masalah di dunia pendidikan. Melalui karya sastra, seorang penulis dapat menyampaikan gagasannya. Ketika gagasan itu disebarluaskan melalui karya, masyarakat mulai berpikir akan adanya perubahan. Terbukti beberapa beberapa puluh tahun kemudian, pemerintah Perancis mulai membenahi sistem pendidikan yang “kolot” tersebut.

Selain sebagai media efektif untuk penyampaian gagasan si penulis, sastra juga dapat menjadi media edukasi bagi para siswa. Dalam memahami suatu karya sastra, siswa akan ditantang untuk berpikir kritis. Siswa juga dapat memahami budaya masyarakat yang menjadi latar dalam teks sastra yang sedang dipelajarinya.

Jadi, sesungguhnya banyak sekali manfaat yang bisa diambil ketika mempelajari suatu karya sastra. Selain memanusiakan manusia, sastra juga mampu memperkenalkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal, melatih kecerdasan emosional serta mempertajam penalaran seseorang. Dengan mempelajari sastra, seorang siswa akan dilatih kepekaannya. Sehingga ilmu yang dipelajarinya dapat diaplikasikan secara langsung dalam mengatasi permasalahan di masyarakat.

 

“Sebab, sastra dapat memperhalus jiwa, menumbuhkan cinta kasih kepada sesama dan kepada Sang Pencipta serta dapat memotivasi pembacanya dalam menjalani kehidupan.”